Oh well.

Ada beberapa hal besar yang harus dilewati tahun ini, salah satunya (yang sangat relatable karena dilaluin sama hampir semua manusia di dunia ini) adalah melewati bulan puasa – dan kemungkinan hari Ied – jauh dari keluarga besar. Menulis kali ini dilakukan sesegera mungkin tanpa banyak mikir karena takut ga jadi ngepost, tepat setelah ngobrol sama temen yang bilang ini adalah waktu untuk saya bikin kenangan baru sama Dia. 

Dia?

Oh, Dia itu anakku, lahir di Jakarta, 18 November 2018, kurang lebih jam empat sore, sehat bugar bersuara nyaring.

Anyway, back to creating memories. Saya punya banyak sekali potongan-potongan moment yang erat kaitannya dengan indera penciuman atau perasa. Banyak aroma yang bisa bikin saya bengong mendadak. Salah satunya? Harum keju Gouda dan butter Wijsman yang sedang dipanggang dalam bentuk kue kering kaastengels. Aroma yang jaman dulu bikin perut nyaris menyerah apalagi kalau keciumnya pas jam-jam abis Ashar. Aduh makkk…

Mama, seperti banyak ibu-ibu lain di generasinya, adalah wanita serba bisa. Bisa jahit, bisa masak, bisa nyetir, bisa naik angkot, bisa urus anak suami rumah, bisa usaha, pokoknya ini itu bisa deh. Nenek saya, punya warung makan di kampungnya, cukup maju dan ramai, masih ada sampai hari ini diurus sama salah satu Om saya. Mama juga pada akhirnya buka rumah makan di sana, sampai hari ini umur tu rumah makan 23 tahun, beda tipis sama adik saya. Hampir semua adiknya mama juga punya usaha warung makan. Kebayang dong ya, food is just our thing, aside from the fact that I for so long tried to ignore it and treat it just as is. 

Bulan Ramadhan yang saya lalui di rumah saat beranjak besar, selalu dinamis dan banyak perubahan. Satu hal yang hampir tidak pernah berubah adalah kehadiran semerbak aroma gogoda dari dalam oven-nya mama. Dalam keadaan sesulit apapun, and believe you me my family had our moments on hardship, mama selalu mencoba untuk bikin kue-kue kering itu. Saya sudah pasti jadi asisten dong, kakak-kakak saya udah terlalu besar dan lebih sering main dibanding nongkrong di dapur bareng mama. It’s one of my favorite times throughout the year. 

Tadi mendadak rindu luar biasa sama rumah padahal cuma lagi bahas kaastengels. Ngebayangin rencana mudik lebaran taun ini gagal karena covid-19 nyerbu Indonesia dan keliatannya belum mau pergi. Lalu temenku si motivator bernama Yayi ini bilang, ya ga usah melankoli kan ini bisa dijadiin waktu buat saya untuk bikin memori baru sama anak saya. Walaupun sekarang Dia lebih banyak nongkrong di rumah Nini (mertua) karena sulit sekalii kawaaaan masak sama anak bayi. 

Semoga bisa ada kesabaran lebih buat bikin activity bareng Dia, terutama yang berkaitan dengan makanan. Melankoli tadi walau masih ada sisanya, langsung hilang berganti semangat. Those fond memories I share with my mom; I am gonna make sure that dia have it too. 

 

meity