Where were we?

Ah!

So I was in Ubud to meet up dear old friend and we went to visit this concept store. When I took a picture of the shop front, a man asked me

Where do you come from?” satu suara dari laki-laki yang duduk di meja persis di depan toko Kelana. Ditanya pake bahasa Inggris suka gatel pengen pura-pura jadi orang mana gitu. But I am in the mood to be me, I feel good about myself and I want to share it. Cie gitu.

“Dari Banduuuuung,” Saya jawab sambil nyengir ngeselin tapi lucu (aseli, orang tertentu aja yang tau ekspresi muka ini deh). 

Mas-nya ketawa denger saya jawab begitu, terus nanya apa saya temennya Tina. He, siapa itu Tina? 

Kemudian ngobrol setelah kenalan. Mas Agung dan Mas Sidi. Saya nyapnyap baru pindah lah, ini-lah, itu-lah. Posisi ngobrol yang tadinya berdiri kemudian ganti jadi duduk, gabung sama mereka (Mas Agung & Mas Sidi, if you are reading this, I hope we weren’t interrupting your conversation mas, thanks for the warm talk!) kasih kartu nama, kemudian pesen minum, kongkow dan baru cabut setelah hampir gelap. Sekilas emang biasa aja sih, sering banget kan ya saya tiba-tiba nimbrung meja strangers terus sok kenal. The thing is, mereka berdua ini yang luar biasa. 

Mas Agung, nama lengkapnya Agung Sentausa. Mas Sidi dengan semangat mempromosikan Mas Agung. “Mas Agung ini yang bikin video klip-nya Anda, Tentang Seseorang, tau dong?” – YA TAU DONG MAS, ADUH. Kemudian ditambahin lagi, “Sutradara film Garasi,” WHAAAAAA. Oke, film Garasi mungkin ga berkesan buat semua orang. Tapi saya tuh sampe hapal lirik dari semua lagu yang ada di album mereka, I am a fan. One song that very much stuck in my head was Hilang. Fedi Nuril was practically one adorable adolescent on that movie. His voice sounds almost honest on Sendiri. 

Sebelum skip, saya minta foto mereka. 

meity little steps in ubud

Jadi, setelah kaget bisa jumpa dengan Mas Agung yang ternyata pemilik kafe Kangen di depan toko Kelana ini, masih belum selesai “the awesomeness of today“-nya. Mas Agung balik promosiin mas Sidi. 

meity little steps in ubud

Boleh di-google juga, namanya Sidi Saleh. Pernah denger film Indonesia berjudul Maryam? Film ini salah satu dari sekian banyak film Indonesia yang sempet ketonton, mohon maklum, ada masa dimana nonton film Indonesia itu jadi privilege buat saya alias susah pisan lah. Nah, film Maryam ini taun 2014 nyabet piala di 71st Venice International Film Festival. Dan Mas Sidi ini adalah sutradara-nya. Kan. Kan. Kan.

What are the odds, saya maksain jalan ke Ubud pake motor untuk ketemu temen lama dan hangout biasa terus ketemu dua orang film maker Indonesia, one being International Award Winning director. Today was clearly an exceptional day for me. Inspiring.

Hal yang seru banget adalah ngobrol sama mereka berdua. Harus ngaku, saya banyak roaming juga pas topik obrolan mendalam ke film, tapi kita ngobrol-nya bener-bener dari A sampe Z. Saya sempat menjelaskan tentang keterlibatan di Karinding Attack dan pergerakan akang-akang kesayangan itu dalam menghidupkan kembali nilai kesundaan di kalangan muda terutama. Mas Sidi mengharuskan saya nonton film Youth karya Paolo Sorrentino – wajib katanya. And I will, after seeing how excited he was when talking about this movie. Mas Agung mempromosikan tempat makan milik temennya, Saudagar, di Dewi Sri. Oh, sama tempat ngopi milik sepupunya di Pantai Berawa, Ruko. I read about the place, never try but definitely will do both places real soon. Bahas mulai dari perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap behavior kita (terutama anak-anak) sampai ke online revenue acquirement dan Youtube Star macam Raisya.

Ngomong-ngomong tentang Youtube Star, mas Agung ngebahas Vanilla Sky. Duo lucu (his word on her look, watch the video and then you’ll get what I am saying) yang asalnya ngecover lagu-lagunya Raisya di instagram dan mulai jarambah ke Youtube. Boleh dicek kalau mau, I agree with him on their potential considering how social media affect on the chance to be a star

And of course, mengingat background David yaitu Design & Technology dan kegemaran doi terhadap film, seru juga liat David banyak ngobrol. He’s usually pretty quiet. Or am I too loud? Anyway, dipikir udah abis kan kejutannya.

Wah, masih ada? 

Engga juga sih, cuma setelah beberapa lama, mas Agung ngenalin saya sama Tina. OH. Ini nih Tina yang sebelumnya sempet disebut.

“Mey, kenalin ini Tina. Anak FSRD ITB.”

Saya tuh ya, kalau denger FSRD ITB suka rada gimana gitu loh. Paham kan? Paham? Ngga? Ya udah, lupain.

Kemudian ngobrol sama Tina, “Angkatan berapa?” saya nanya. “2001,” jreng jreng.

Kalimat jurus kalau ketemu anak SR ITB, “Kenal Nanda?” dan biasanya dari situ mengalirlah percakapan kita. Dan bener, Tina ternyata temennya sepupu saya. Dan si Shiverpiece yang saya kecengin berat itu, ternyata walaupun made in Bali tetep dong yang bikin anak SR juga. Oke. 

Ngobrol sama teh Tina ini, pemilik Kelana Concept Store, yang baru beberapa bulan juga pindah ke Ubud, menyenangkan. Cerita gimana dia bisa pindah ke Ubud. Cerita tentang turis yang dateng ke Ubud untuk Yoga, dan ternyata apa yang dibilang Yoga itu salah satu purpose-nya untuk healing adalah benar. The twist is, orang yang melalui masa penyembuhan itu kan berarti orang-orang yang lagi sakit ya? Nah, yang ikutan program healing itu ga semuanya udah sembuh. Hahahaha. Alias, masih banyak turis yang dateng itu yang pada “sakit” – oke, I cross healing yoga from my options, I know Thai Boxing is a better fit for me anyway.

Cerita dari Tina masih banyak, padahal ga terlalu lama saya misah buat ngobrol berdua sama mbaknya. Saya dikasih saran untuk coba pindah-pindah tempat juga kalau emang masih bisa. Coba liat, vibe mana yang paling pas. Kalau Tina emang udah sreg-nya di Ubud, walaupun hiburannya mentok-mentok ke Paradiso buat nonton dan makan vegan food yang enak semua. Saling curhat juga tentang solo traveling, tanggapan dan pertanyaan penduduk lokal yang misalnya kayak, “Mbak ga takut tidur sendiri?” 

Saya ketawa sambil nyeletuk, “Ya maunya sih ada yang nemenin, tapi ga adaaaaa apalah daya,”

Tina ikutan nyeletuk, “Masnya mau nemenin? Hahahahaha,

Okee, I think we were on the same page and laugh about it.

Moving on, kemudian gelap tiba dan rasanya waktu yang tepat untuk pamit. Saya dan David lanjut makan malem, tebak dimana? Yep, balik lagi ke Seniman. Karena motor kita tinggal di sana dan saya baru tau kalau disana ada makanan juga. Disangka cuma kopi sama kue-kue doang. Enak juga, you should really try Gado-Gado if you’re into Indonesian food. Tampilannya kece, dibikin kayak sushi roll gitu, rasanya juga kece di lidah. 

Ngomong-ngomong, pas balik ke Seniman, ada dong yang duduk dari sore tadi di depan laptop masih diem di sana. Dalem hati nih ngomong sendiri, wah jangan-jangan gitu juga gue yak kalau lagi ngopi sembari kerja. Me and David spend a little more time talking after dinner. Saya siap-siap juga pasang lagi earphone trus cari jalan pulang di gmaps. Mengantisipasi si gmaps mogok ngomong kayak tadi lagi, saya coba apalin jalan yang harus diambil nanti. Sambil tetep berharap si apps bakalan ngasih direction tanpa harus nunggu saya nanya ke warga sekitar berhubung hari sudah gelap dan jalan semakin seram. 

Setelah pamitan, wishing each other well, saya naik motor dan melaju menuju jalan pulang ke Canggu dan David balik ke kediaman kakaknya. Sebelum pertigaan pertama, terdengar masih dalam nada yang sama, “In one hundred meters, turn left, and then turn right,” alhamdulillah. 

Perjalanan pulang terasa lebih santai dibanding waktu berangkat. Emang si, jalannya gelap banget dan saya berusaha keras nyari cara ganti lampu dekat sama lampu jauh. Sampe-sampe hampir nyelonongboy lurus pas jalannya belok tajam. Mulai gundah, perasaan kalau liat orang pake motor bisa ganti-ganti lampu deket jauh. Kok gue ga bisa ya? Mana sih. 

Dua puluh menit kemudian, barulah sadar, ada kenop deket jempol tangan kiri yang gunanya apa saudara-saudara? Iyes, gunanya, untuk mengganti fungsi lampu jauh dan dekat. Terus ketawa sendiri di jalan. How come I am the daughter of my father and not knowing this? Ya ampun, I have so much to learn. Kebayang dong, butuh waktu satu minggu sampai saya tau gimana cara ganti lampu jauh deket-nya motor. Baiklah, mari kita pulang.

 

 

 

 

And I thought my story for today was over, but not so fast dear friends.

Satu kilo sebelum kosan, ada razia dong. Iya, razia. Razia motor. Disuruh ke pinggir lah saya ini kan ya.

Selamat malam,” kata Bapaknya. Saya senyum setelah nurunin masker, “Selamat malam Pak,

Bapak yang tadi nyapa saya noleh ke temennya terus bilang, “Ngerti kok dia bahasa Indonesia,” temennya manggut-manggut sambil jalan mendekat.

Permisi mbak, kami sedang melakukan operasi. Boleh dilihat surat-suratnya? Turun dulu dari motor,” kata Bapak yang sama. Saya turun dari motor dan buka jok, ambil STNK dan dikasiin ke bapaknya.

Eh, eh, ini, ini, foto dulu,” bapak yang ngambil STNK ngomong ke rekannya yang bawa kamera. Ngomong-ngomong saya engga pernah razia terus difoto, emang prosedur ya?

Mbaknya dari mana?” saya masih nyengir, “Bandung Pak, baru aja pindah kesini 10 hari yang lalu,

Polisi yang tadi mendekat nanya, “Bawa motor dari Bandung?” kemudian dijawab oleh saya, “Ngga pak, rental,” dan temannya yang tadi minta STNK nyerocos, “Itu platnya DK kok kamu itu,

Pasti gak punya sim ya?” – yeeee gitu aja dia, sembarangan, kalau sim mah ada dong eke.

Yeeee, ada dong pak, yeee ga bisa nilang hahaha,” saya ketawa. Terus difoto. Terus dipanggil neng geulis. Terus ditanya tinggal dimana. Terus bapaknya ngulang nanya, “Naha? Naha? Naha?

 

LAH. Ari bapak, cageur?! Saya diperbolehkan lanjut setelah sim aman dan dipastikan muka sama kayak di sim.

Now, I really am coming home. 

 

Saya pulang dengan senyum lebar dan hati yang insya Allah lebih leluasa. Acceptance comes in many forms, and today I simply chose to become.

 

Terima kasih sudah bersabar membaca! See you again on my other little steps.

 

kiss kiss,

 

-mf-